Tampilkan postingan dengan label Epos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Epos. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 April 2012
Dan Janjipun Tunai
:untuk mangkatnya Patih Suwanda
hening pekur itu meragukah engkau ksatria?
beban lah sudah sudah tak henti
titah prabu sang junjungan menumpas Rahwana
pada kemah perang besar itu Suwanda takluk disepi malam
hanya bau darah serta sisa isak tangis terdengar
sedang hewan penghias malampun bergidik telingas-mengendap-berbisik
sekelabat samar antara sadar terjaga,selaksa mimpi dalam tidur
selesat cahya menelurkan rupa,maya,lembut mistis
"kekasihku" Narada dewa menyabda
"pukulun" jawab sang patih tunduk
"engkau satria tama kekasih,sebagai yang sejati berbaktilah engkau dengan cinta
usahlah kau pamrih
pamrih hanya menjadi duri pada jalanmu
kegelisahanmu kerna engkau berpikir tentang hasil
bukan hasil itu benar pengikat kebahagiaan
tapi perjuangan tak kenal lelah adalah kemanisan"
"titah pukulun,hamba laksanakan"
......lenyap sang maya,alam lelimengan seakan waktu berhenti detak
hujan tangis tak redakan itu perang
badai airmata tak pula redupkan niat
perang selalu meninggalkan kekalahan
baik untuk sipemenang atau sikalah
semua kehilangan
Dadali serta Triwikrama berkelindan saling binasa membinasakan
"oh adinda...apaah kini saatnya kakang menyusulmu?'
keraguan Suwanda tak sirap,Sukrasana seakan menyeru namanya,ingatanya kepada sang adik
saatnya tlah tiba melunaskan yang dijanjikan menyelesaikan hutang-piutangnya saat kehidupan ini.
tiada kelahiran baru-tiada!
"engkau kutunggu dipintu itu kakang" seru Sukrasana.
"penandanya ada ditaring Rahwana raja"
menang dan menang meski seribu raksasa sekalipun
dalam kesadaran
betapa alam ini adalah penguasa,tiada yang luput dari janji
semua akan terlindas cakra manggilingan
"baik,kupungkasi ini semua,kini!,ya ,Kini!"
kutuntaskan hutangku"
sembah sujudku demi Ibu Pertiwi.
Suwanda pasrah manunggal dengan keiklasan,
"tak kumiliki sesuatupun,juga selembar raga ini,juga sebutir nyawa ini,hakikatku tak berpunya "
pantang ksatria kekasih para dewa beranjak dari tanggungjawab Maha Tunggal pemilik semesta raya
"tak ada aku...
tiap tetes darahku yang ngalir adalah menujuMU
aku hanya melihat Engkau Sang Sejati
hanya ada Engkau dimata batinku,lainya tiada....ya,Engkau,duhai"
matahari meredup seredup redupnya
langit murung
cuaca gelisah,hujan riwis mengerang
maya kusyu dalam kesedihan agung
menghantar sang kekasih mangkat dari medan laga
dengan raga belah
dengan jiwa tumpah
menghadap Kekasih Sejati
Yang Tunggal
diantara awan awan yang merintih pilu,sepasang peksi bergandeng tangan
"adikudi maafkan kakang" dada yang wutah dibekapnya
"kakang usai sudah penantianku,kau lampus,mari kita sowan kakang"
berpeluk tak lepas sepasang itu peksi
"adinda,mari adinda,purna sudah selembar badan......." kucur darah saksi diahir nanti
"rupamu elok kakang,mangkatmu sempurna sebagai ksatria,niscaya bunda bumi mewangi menyambutmu"
kembali perang bercerita soal kehilangan dan kehilangan
gunungan tertata miring,blencong memudar,gending nelangsa melantunkan undur undur kajongan bersalin megatruh mengiris perih hingga tiada darah menyecer,seolah kulit luka tergores menyiprat cuka
sangat perih
alam kembali pada Yang Hak.
----------------------------------------------------------
tak ada kepemilikan apapun,keakuan adalah ego pengikat kepemilikan
Gusti yang bersemayam didada nurani sang patih adalah sang penuntun sejati
ketika sang patih merelakan kepemilikan maka ia disambut oleh Kang Murbeng Dumadi.
dipuncak pucuk kelanggengan nan abadi
mokswa
-sidem-
Depok,Medio September 2011
Rabu, 18 April 2012
Kidung Kesaksian Raga
:untuk Tarian Gatotkaca Gandrungoh mungkin guci guci itu habis sudah isi
perwitasari,air kehidupan
Jatayu,tak lagi terbang mendamba
hinggap berkelindan diruang tanpa batas
Bunda,lampuskan aku!
lintang alihan-lintang alihan
kutitip rindu terlekang pada teduh bumi
andai iya,andai iya kau Bapa Harjuna
meletak cinta kuyup di dada Pergiwa
larutkan jua di didih sunyiku
lepuh
labuh
Bunda,mungkinkah aku pemuja tergila?
bintang sabit kerat telah
usai di kikis malam tercekam
dilindas budi si mati
setiap nama dikenang pada itu
kiprah terbaik kehidupan
harum sesapnya melebihi kembang swargaloka
Bunda,restu langit dan jagat kumohon!
agar culas Hastina tak meluluh lantakan keadilan
keserakahan mesti sirna meski tak tersisa seujung kuku sekalipun
melahirkan putra terkasih untuk menjaga jernih nurani
sang pamomong sejati menjadi kunci
untuk tegaknya kendi kendi di langit sap pitu
Bunda,aku tak gila bukan?
dinda Pergiwa
sihir matamu panah membius
di jantungmu adalah degupku
di hatimu tarikan nafas hidupku
nadi darahmu aliran denyutku
jangan kemaraukan citamu
ooo cakra manggilingan
sepuhkan bara mutiara di tilam sari
roncekan kabut kabut sekar mlati rupa peni
bukan hanya raga namun sang sukma
tali temali sutra
rintik teritmis
dikemudian hari
menujumu
langit putih-hati putih
kembali bunga bertaut wangi
senja melembayung
menyanyikan kidung asmaradana
kahyangan penuh suka andrawina
esok putramu lahir,memanggilku
:Bapaaaa...
Margonda, 12/05/2011 00.30 WIB
ket: gambar oleh google
Selasa, 17 April 2012
Bambang Sumantri Pada titik Beku
: perjamuan Sumantri untuk Sukasrana sesaat usai panah lepas
Sang ksatria terjerabab dalam renung,habis fikir pelita hati,seakan pelita itu sinarnya goyah terurai angin jahat,pun awan gelap membentuk badai....lunglai segenap rasa dan jiwa,usai panah itu menyelinap membawa terbang Sukasrana:
"ah adinda dosa apa yang kusandang?"
dipeluknya jiwa raib adinda
"usai taman sriwedari kau putar menjadi taman kraton,usai kasihmu kau pasrahkan halus tulus kuputus nyawamu dari badan"
[ooo satria hapus duka dan sesal,sebab itu takan menyurutkan langkah
pantang satria merintih menyesali nasib yang tlah lewat
kembali engkau bangkit,setiap laju langkah pantang berbalik arah
panggul saja semua yang tlah kau perbuat.
teringat kembali Ardisekar bersama Sang Resi,
ditantingnya kejumudan diri....
ooo tanganku bersimbah darah mu adinda]
lukanya amat luka
perihnya teramat perih
tak bisa ia berlari dari kisah
:dosa?
[seandainya aku tak usah menjadi Mahapatih?
cita cita yang menjadi kuburan buat adinda.....
kabur angan hanyut pada airmata yang mengabut
cita cita janganlah membutakan mata...
gapai kilau cahaya jiwa ada pada nurani
senantiasa ada suara bening meski lirih ]
duhai jiwa duhai raga
menyatu dalam satu kehendak
engkau raga tiada mungkin berkeinginan
sedang jiwa tertulis pengertian murni halus
[ah pengertian macam apa aku ini adinda...peragu tiada alang]
kehendak bhakti,abdi,pada darma takluk kepada-Nya semesti berjalan dalam kasunyatan, tak seperti membalik telapak tangan kemudahanya, namun akan ada kawah candradimuka coba serta goda, ketika semua tertaklukan maka di terima pula ia sebagai hambaNya,sedang keluhuran-Nya tiada bisa digambarkan
[godaan ini teramat berat adinda
bahkan belum usai cobaan tlah kumangkatkan engkau...
tak guna lagi airmataku,tak guna lagi pengabdianku...]
"Kakang kutunggu engkau di gerbang Nirwana
pintunya akan terbuka ketika kita sowan bersama"
o jiwa ketika kau mencari keluhuran ajaklah juga raga
...... o.....
[raga akan kembali menjadi bumi
jiwalah yang menghadap Kang Sejati
bisikan batin pertama utama,setelahnya adalah godaan]
tiada lagi arah tiada lagi kiblat
Sumantri tenggelam dalam alam awang uwung
menyatu...satu
kususul engkau.
hening
sidhem
kewaspadaan bukanlah sebuah ketakutan teramat sangat
godaan akan terbalut manis dimana mana serupa madu
hendaknya jangan bermain api
ia akan membakar
jangan bermain air
ia akan menenggelamkan
sekedarnya saja
semurwatnya saja
dan ketenangan kau dapat
#Srengenge wus angslup,blencong blencong kapancar kanthi samar repet repet
*rep sidem permanem tan ono huno huni
tan ono walang talisik..........
saungkure goro goro
ono bocah bajang sakembaran
sing siji nggowo bathok unine kanggo nawu segara
kang sawiji nggowo sodo lanang kanggo nyapu jagat
Tidak Tertanggal Juli/2010.
Usai nonton Wayang Orang "Sumantri Ngenger"
aku ingin menemukan jejakMU
tak hendak aku jadi satria karena aku harus mencari segala apa semesta
tak bisa aku mendapati cerita mulia dari tukang cendol dan serupanya
-segalanya akan kutanyakan pada punakawan,karena mereka akan menatapku keatas penuh takut
melainkan punakawanlah yang bisa bertamu keatas dan kebawah dengan riang diterima sambil memunguti serpih kebajikan
Tuhan aku ingin mencintaiMu karena memang aku mencintaiMu
Tuhan
aku curiga dengan diriku...
Tuhan
aku ingin menemu tapak jejakMu
[nyanyi senja Ki Petruk Kantong Bolong.....]
[inspirasi atas obrolan dengan penyair multi talenta Faizal Komandobat...terimakasih banyak obrolanya Gus...salam bahagia untukmu ]
UI Depok,2010
keterangan:
#Matahari tenggelam,pancar pelita menyala remang ada bayang mengendap
*keadaan sungguh sunyi sekali
bahkan tiada belalang bersuara
usai sudah keriuhan
lantas muncul 2anak kembar
yang satu membawa batok untuk menguras laut
yang satu membawa lidi untuk menyapu alam
nonton Wayang Orang berjudul Sumantri Mengabdi
kembali tentang tahta yang bersimbah darah...???
mestikah seperti itu?
ket: gambar di ambil dari google
Kesaksian
kepada Sang Bhisma
.... perih jiwa
raga itu melontar darah
pada cermin
ia membagi
menyenggama kesatuan puja
usai tajam panah merampungkan tugasnya.sang Bhisma berkenan menuturkan kerinduan persatuan dalam keragaman.Yudhistira satria berdarah putih mengiya santun penuh haru.berikutnya Arjuna terlempar dari arena perang
[setelah semalam Kresna merunduk runduk mengintip kelemahan Sang Bhisma
yang sedang bertafakur dalam kemah perangnya...
Kresna usah kau mencuri dengar,hadapkan aku dengan prajurit putri,maka disitulah semayam ruhku...sebab aku takan pernah berperang dengan kekasih jiwaku.....bisik Bhisma dengan aji pamelingnya,ah Brahmana itu mengungkapkan kelemahanya sekaligus tanda bhakti suci untuk sosok wanita....pancar blencong redup]
dan gelar perang menuju saat saat terakhir.....
Bhisma:
ah takkan kulepas kilat panah menujuku.biar kusambut kekasih membawa serta ruh jiwaku.hapus segala airmata untuku,sebab kematianku benar dan nyata adanya,inilah sebuah janji yang terpatri
lewat tajamnya kerinduan,tak pernah salah srikandi membunuhku.sumpah prasapa prajurit dimedan laga
ditanganya tertitip sanggar pamujanku
perang tlah digelar
pantang diurungkan
panji panji berkibaran
pantang diturunkan
meski sehasta tiada kusurutkan langkah
walau ragaku tinggal selembar
meski perang bukanlah penyelesaian tunggal
namun janji adalah bakti
sang ksatria teguh menuju Tuhan,obor obor menuntun asap dupa stanggi.Sang Bhisma diantar kiprah budi kerti mendapati nirwana,senyum pasrah suka cita
Amba aku sambut panggilanmu
Amba:
kakang kusambut engkau kujamu serta tlah kusiapkan tilamsari menerima kedatanganmu
Srikandi luluh lantak tak bersuara.kehilangan segala kuasa.sesal bergayut dari lesatan panah ditangan.
hidup bukan hanya sekedar hitam putih,abu abu sering menggoda dalam timpuh meditasi.
Nirwana?selaksa iming iming hadiah kanak kanak,tanpa nirwana masihkah ada sebuah puja?
tangis langit pecah merobek hening
satriya yang setia menjaga sumpah hingga ajal menjemput
menjaga perih dihati
genang darah
berbantal anak panah
serta meneguk air cucian senjata perang
lelaki sejati berkeharusan menjaga darma
dewa dewa turun menebar rangkai bunga bunga,menyambut lelaki sejati berpulang,tergelar sutera halus tampak langkah jalan menuju langit swargaloka.langit runtuh murung mengalir deras hujan tangis,prahara senyap seketika....
Bhisma,jiwa besar bingkai cermin
tempat berkaca ksatria sejati....
Jadilah selaksa daun pepaya,jelek pahit tiada tara namun memberi khasiat obat yang luar biasa,menenangkan gejolak ketika jiwa memberontak
Lengkong,1 januari 2007,pada temaram senja yang mistis
"whS"
:keprihatinan diperang besar padang kurusetra
.... perih jiwa
raga itu melontar darah
pada cermin
ia membagi
menyenggama kesatuan puja
usai tajam panah merampungkan tugasnya.sang Bhisma berkenan menuturkan kerinduan persatuan dalam keragaman.Yudhistira satria berdarah putih mengiya santun penuh haru.berikutnya Arjuna terlempar dari arena perang
[setelah semalam Kresna merunduk runduk mengintip kelemahan Sang Bhisma
yang sedang bertafakur dalam kemah perangnya...
Kresna usah kau mencuri dengar,hadapkan aku dengan prajurit putri,maka disitulah semayam ruhku...sebab aku takan pernah berperang dengan kekasih jiwaku.....bisik Bhisma dengan aji pamelingnya,ah Brahmana itu mengungkapkan kelemahanya sekaligus tanda bhakti suci untuk sosok wanita....pancar blencong redup]
dan gelar perang menuju saat saat terakhir.....
Bhisma:
ah takkan kulepas kilat panah menujuku.biar kusambut kekasih membawa serta ruh jiwaku.hapus segala airmata untuku,sebab kematianku benar dan nyata adanya,inilah sebuah janji yang terpatri
lewat tajamnya kerinduan,tak pernah salah srikandi membunuhku.sumpah prasapa prajurit dimedan laga
ditanganya tertitip sanggar pamujanku
perang tlah digelar
pantang diurungkan
panji panji berkibaran
pantang diturunkan
meski sehasta tiada kusurutkan langkah
walau ragaku tinggal selembar
meski perang bukanlah penyelesaian tunggal
namun janji adalah bakti
sang ksatria teguh menuju Tuhan,obor obor menuntun asap dupa stanggi.Sang Bhisma diantar kiprah budi kerti mendapati nirwana,senyum pasrah suka cita
Amba aku sambut panggilanmu
Amba:
kakang kusambut engkau kujamu serta tlah kusiapkan tilamsari menerima kedatanganmu
Srikandi luluh lantak tak bersuara.kehilangan segala kuasa.sesal bergayut dari lesatan panah ditangan.
hidup bukan hanya sekedar hitam putih,abu abu sering menggoda dalam timpuh meditasi.
Nirwana?selaksa iming iming hadiah kanak kanak,tanpa nirwana masihkah ada sebuah puja?
tangis langit pecah merobek hening
satriya yang setia menjaga sumpah hingga ajal menjemput
menjaga perih dihati
genang darah
berbantal anak panah
serta meneguk air cucian senjata perang
lelaki sejati berkeharusan menjaga darma
dewa dewa turun menebar rangkai bunga bunga,menyambut lelaki sejati berpulang,tergelar sutera halus tampak langkah jalan menuju langit swargaloka.langit runtuh murung mengalir deras hujan tangis,prahara senyap seketika....
Bhisma,jiwa besar bingkai cermin
tempat berkaca ksatria sejati....
Jadilah selaksa daun pepaya,jelek pahit tiada tara namun memberi khasiat obat yang luar biasa,menenangkan gejolak ketika jiwa memberontak
Lengkong,1 januari 2007,pada temaram senja yang mistis
"whS"
Langendriyan Asmaragama II
:demi mokswanya Sang Shinta Suci
pancar pada rembulan tak lagi elok meski masih sinar kemarin
Rama Sang Raja besar bersimbah keraguan
keraguan kepiting tertelan ular hidup hidup
mencekik kesadaran yang tempias
betapa jelas tetes hujan terakhir pada ujung daun diluar sana
beku matahati,tuli telinga batin,mencercap kepodang centil
pada pisowanan agung sesiang tadi
dua lelaki kembar mengetuk jantung
dalam Aswamedha,merdu lah merdu kidung si kembar
"iyakah oh Lawa oh Kusa...darahku mengalir dinadimu?
kesumbangan di luar sana menghujan derasnya,gemuruh
pembakaran dan pembuangan masihkan ada yang lebih menyakitkan"
cericit kelelawar malam meninggalkan pula pesan
"ooo malang nian sang Putra Dasarata,duhai Raja besar usir keraguan dihatimu,selayaklah titisan Sang Dewa tentukan satu saja nyalakan sejumput bintang,tetapkan iya atau tidak,usah kau terbuai alunan nada sumbang diluar sana,ooo malang nian Raja besar galau dalam sikap"
-"Kanda,andaipun masih dalam kebimbangan,seperti mula,pembakaran patuh kulalui lalu pembuangan sebagai sembah bakti abdi kujalani kanda,tak yang lain,tak yang bukan,tak sesiapa atas jiwa ragaku,andai ada jamah Rahwana pada kehormatanku maka biarlah bunda bumi menolak jasadku kanda"
+"Sintaaa,kebesaran mu seayu wajahmu dinda,maafkan aku,aku bukan hanya suami bagi prameswari namun Raja bagi rakyatku,namun bisik itu sungguhlah kerasnya...."
-"usaplah airmatamu,tak baik ksatria besar meneteskan airmata,lakukan saja duhai sang raja,hanyutkan kebimbangan,sebab keraguan adalah lebih jahat dari duri dijalan kita,ia penjegal batin,lakukan sang raja....
pengabdianku pada guru laki takan hangus hanya oleh kerna hukuman
kudarmakan keseluruhan keakuan sepenuh sebulat tekad tak gores
buang aku Rama,cinta takzimku utuh"
Laksmana tertegun mengusap selesat ruhnya membisik,"oh kanda,oh ayunda,oh andai...pun aku...ahhh"
ditatanya hati,digelarnya detak jantung
membuka pintu belantara
mempesiapkan ketekadan
sabda pendhita ratu tak bisa menjilat ludah kembali
sumpah yang tlah terlontar adalah amarah gunung api
mengantar ke pembuangan kembali
perempuan ayu yang tlah tersadar oleh permintaan kijang kecana dahulu,menyempatkan berpamit:
"kakang Bharata,adinda Laksmana,selamat tinggal.kanda Rama aku ingin mencium kakimu untuk kesekian kali,terima sembah baktiku kanda...Bunda Pertiwi,perkenankan aku pulang Bunda,hanya engkaulah tempatku berpulang..."
Pisowanan agung lengang tiada terkira,bahkan semua terdiam selaksa batu,tiada gerak,tiada apa,hingga nafas nafas terdengar jelas sangat jelas...menatap perempuan dengan sinar terang agung disekujur tubuhnya,sinar kemuliaan
melepas kepergian pada langkah lembut teguh ayu,alampun hening seolah menderas mantra mantra kebesaran kesejatian....
entah pada tapak keberapa,bumi merekah,bumi belah,pintu gerbang sang waktu terbuka,Bunda Pertiwi teramat jelita menjemput putri terkasih,diayun kecupnya kening sang putri,dipeluk dekap tubuh molek harum cendana tabur roncean bunga bunga mengiring tertutupnya kembali bumi,rapat,utuh seperti sediakala.Shinta menyatu dengan muasalnya,bumi berkenan menerima kepulanganya...cinta lah abadi...
megatruh berkumandang seakan suara dari kedalaman,mengetuk kebebalan.
apa beda keledai? pada satu jurang terperosok berkali kali,ooo kebodohan,oh pikat duniawi....
kembali sesal sang raja tiada ujung,ditinggalkanya tahta,dilepaskanya gelar,menyepi di aliran Gangga yang teduh menanti kesatuan.
hingar bingar sanjung puji mengalpakan nurani
tahta gejolak benderang duniawi menutup pintu batin
keraguan adalah muara bagi tawa pongah angkara kelam gulana
bakti suci kepada guru adalah bakti jenazah kepada yang memandikan
sungkem tertinggi pada semesta sang hidup
tancep kayon
Depok, tidak tertanggal
catatan:membaca epos Ramayana,dimana setelah menyadari kesalahanya Shinta diuji dengan pembakaran yang luluh lantak,cerita belum usai ia bahkan terhukum buang hingga hayat,bakti tertinggi seorang prameswari,sedang Rama sang raja besar itu......?????
Langendriyan Asmaragama I
: untuk kesaksian pembakaran Sinta Dewi.....
langkah – kendali-rantas
nurani ragu tertatih perih
Bukan pembakaran atas Dewi!!!
Memusnahkan nafsu dunia
Agar hilang langkah alpa
Bara – kalung emas
Pundi pundi mutiara
Keinginan – keinginanlah
- yang liar – bakar!!!
Dari penebusan dosa
Lepaskan lara – bakar!!!
Bukan menghukum Sinta Dewi
Bukan menyangsikan sang cinta
- yang sungguh setianya
Tapi membakar nafsu dunia
Sebab kijang kencana adalah halusinasi – mimpi?
[apa yang kau cari Shinta.....apa yang kau cari....
manis puja puji katakata?]
"Kubakar engkau dengan cinta!!!
luka api basah keringat airmata"
[begitu Ramawijaya berkata]
Sinta Dewi:
"kanda tiada jamah dari Rahwana...aku untukmu saja....
kuasa iblis lah luput cengkeram raga
tiada kugunting lipat cintamu duhai Rama...lelaki pujaningwang....
tutur manisku sembah bekti tak cela.....bukan bungabunga manis bibir belaka
usah ragu kanda...usah ragu...kubaktikan jua...bakar aku....
yakin yakin dan yakin Dhanyang Sinta ucap sembah bakti"
Ramawijaya:
"dari besar cintaku....tak penat asa
Sinta...untuk apa membohong...untuk apa?
kalau itu hanya sekedar basa basi demi kebahagiaan saja...
ketulusan,keingkaran sebuah janji...
katakan Sinta,katakan saja
menjamahkah rahwana kepadamu....???"
"samudra api tergelar untuk pembuktian kesetiaanmu Sinta..."
-memerah padam wajah Sang Raja...
"Kubakar engkau dengan cinta!!!
luka api basah keringat airmata"
[begitu Ramawijaya berkata]
titah raja tlah terlontar
pantang tuk diurungkan
dikecupnya kening Sang Dewi
Sinta tetap dalam ketenangan
tenang
sungguh tenang
teramat tenang menjemput
berjalan menuju puncak balai api
pada laut nyalanya ia menceburkan diri
hening
ribuan penyaksi terpaku berbareng koor suara "ohh"
sambil mendekap mulut
diam
hanya terdengar geletak api memangsa kayu pembakar
makin lamat Dewi Sinta yang halus itu lenyap dari pandang
api membungkusnya
tenang-duduk-menimpuhkan kaki:laku semedi
menyatukan cipta-rasa dan karsa
api enggan menjamah tubuh :kalis
tetap erat melakukan puja brata
pun kesetiaan lunas terbayar:tuntas
dibangsal kehormatanya Ramawijaya raja besar
:tertunduk tiada bisa berkata apa....
[17 April 2010,22. WIB]
kesetiaan adalah suluh jalan terang kehidupan
sedang tahta adalah kursi panas duniawi
lautan api meluruh menjadi hujan kubang bungabunga...
gending mengalunkan sekar asmaradana...
tancep kayon
[Depok Jum'at 23 April 2010]
"whS"
Gedung WO Bharata,Senen, Jakarta 17 April 2010,22. WIB
terinspirasi oleh
pagelaran wayang orang
RAMAYANA - PRAHASTO GUGUR
Depok Jum'at 23 April 2010
lalu pagi tadi melihat 2 angsa putih disebuah kolam
saling meliukan leher panjangnya penuh romantisme
salah satu angsa dengan paruhnya tampak memberikan ikan kecil
kepada angsa pasanganya...pemandangan indah tentu
begitukah Sang Rama memesrai Dewi Sinta
setelah altar pembakaran itu terjadi?
dari api yang tak melumat tubuhnya
serta malu hati Sang Raja kepada permasuri tercinta?
setelah perang besar,setelah banyak korban untuk merebut kembali Sinta
begitu saja Rama membuat upacara pembakaran Sinta?koq tega ya?
Langganan:
Postingan (Atom)






