Rabu, 18 April 2012

Perjamuan Kekasih

:kepada hening Melati

  Kebahagiaan

bersumber dari ribuan luka
mengalirkan darah perih
ya Biyung kuteguk habis do'amu
:kusyu'nya kebahagiaan

  Mentari Terik

baranya terus melantunkan zikir serupa kidung
panasnya membangkitkan gairah raga
setiap alunan cangkul petani
setiap denyutnya
:mentari melafalkan AsmaNYA selalu

  Kebenaran

eloknya kadang melalui pembuktian pembuktian bermacam kesalahan
untuk menemukan kesejatian ada keterjalan duri pada langkah langkah
tak perlu lagi apa apa,sebab kebenaran adalah pembela paling suci

  Rembulan Elok

semalam kata kata luntur dari mulut rembulan,menyapa sendu:
"kesaksian kesaksianmu adalah kesaksian timbangan nanti"
dibukanya lembar merah jelaga kesalahan hari ini
satukan segenap panca indra pada keningmu
:takluk

  Bintang

katakan apa adanya
dan selamatlah engkau

  Zaman

teramat banyak serigala bergamis

  Adakah

adakah yang tahu kenapa bulan bertengger dilangit
ada pulakah yang tahu duduk dimana bumi ini
kalau bukan oleh kehendak yang Maha Kehendak
bukankah Ia terkadang juga berteka teki lucu?
hingga kedap bercinta dengan Dia tanpa kias lagi
percintaan sakral sakral sakral nan agung

  Genta

ku ketuk bunyikan genta genta
perdengarkan suaranya dihatimu
maka aku mabuk bebunyian
jiwaku bergetar menghirup anggur anggur
dari guci kehampaan
aku kosong
aku tiada
bahwa benar adanya
Yang Maha Ada
:Engkau

  Aduan Pengemis PadaNYA

Tuhan,aku ketuk pintu pintu itu
tak jarang hardik dan makian kuterima
maka gunungan sampah menjadi harapanku
aku yakin Kau membawakan makanan disini
sudah kukorek beberapakali
masih belum kutemukan gemintang
aha benarkah ini,sekotak nasi berlauk
tinggal sedikit memang
tapi cukuplah
-oh seekor hewan kurap memelas
tampak sakit nan lapar-
baiklah mari makan denganku kawan
sepotong daging kita bagi dua
juga nasi ini kita bagi dua
marilah makan

[lalu senja itu,menjadi biru samar
seluruhnya biru,tak pohonan,tak langit,tak awan
hening...kedap...sunyi
semua biru,dan semerbaklah harum melati dari langit
mega megapun tiada bergerak
Tuhan Kau Sang Maha menerima kebaikan,ya...
...............
sunyi sekali]

  Seruan di Senja

Ia berkabar hadirnya senja,
sedang aku masih menggeluti duniawi,
duhai seruan-Nya merdu nian?
mari Kujamu kau kekasih!
:amien


Pengadegan,07/04/2011, 17.05 WIB

catatan:
pulang dari perjalanan,disebuah timbunan sampah terlihat seorang pengemis kecil makan begitu lahap berbagi dengan seekor anjing kurus tak terawat mungkin miliknya ataupun anjing liar,siluet senja teramatlah hening,kudengar pula seruan dari pengeras suara dari rumah rumahNYA,ada getar lirih dihati,ada kesaksian,ada rasa syukur,ada tetes hangat dipipi,ada haru biru....

Dongeng Manusia Asu

          Parjiman masih terbengong menatap secarik kertas ditanganya,bukan hanya kertas itu yang dipikirkan namun harus bagaimana ia berkata pada buah hati dirumah nanti,harus berkata apa pada istrinya yang begitu setia,"maafkan aku ya Gustiii maafkan aku nak...maafkan bapakmu...."
Hari itu di meja kerjanya tergeletak selembar amplop,oh dari atasan,"Pak Parjiman,anda dipanggil menghadap Bapak di ruang kerjanya nanti siang",belum juga membuka amplop teman seruang sudah mengabari suatu hal yang mendebarkan,apa sesungguhnya?.

"silahkan masuk" sebuah suara menyahut dari dalam ketika ia mengetuk pintu kamar kerja Atasan yang terbiasa di panggil Bapak sama seluruh karyawan.
"Bapak memanggil saya?"
"oh iya pak Parjiman,tapi sebaiknya kita ngobrol di luar saja yuk,kita sekalian makan siang di warung depan yuk", kata sang Atasan.
"mari pak,monggo,jadi merepotkan saya ini" sambut Parjiman malu malu,sambil tetap bertanya tanya kemauan Atasanya yang hari itu terasa aneh,selintas di curinya wajah sang atasan "oh telinga Bapak direktur koq sedikit memanjang dan lidahnya?lidahnya terjulur julur begitu?aneh" batinya,seperti kucing membuntuti sang tuan,Parjiman merunduk runduk.

"jadi begitu Pak Parjiman,perusahaan minta maaf pada Bapak,Bapak mestinya taulah" kata sang atasan usai makan siang mewah yang ternyata restoran padahal tadi beliau dengan enteng bicara,warung depan!,warung itu tak begini pak pakkk.
"iya pak,maafkan saya,maafkan anak saya" Parjiman masih menghadap piring kosong bekasnya dengan duduk ditekuk semodel udang di kursi,saking hormat dan takutnya pada sang atasan.

          Secarik amplop berisi selembar kertas dimasukan kedalam tas kerjanya,merapikan meja bersiap pulang,"Pak Parjiman,mohon maaf kami semua sudah membantu Pak Parjiman dengan sangat,tapi asal bapak ketahui kantor ini juga mempunyai atasan yang lebih atas lagi,bapak tau kan bahwa bapak orang tuanya dulu adalah terlibat organisasi cap hitam?" masih terngiang ucapan sang atasan di sela makan siang.
"iya pak,maafkan saya pak"
"kami semua tak jemu jemu membantu pak Parjiman sekeluarga,masalahnya begini pak,saya dengar anak bapak punya hubungan khusus dengan anak terkasih dari atasan kita semua pak,kita ini apalah pak,saya cuma kacung yang gajinya ga seberapa" sang atasan merendah dengan menyamakan dirinya kacung,"lantas aku siapa?" bisik hati Parjiman
"demi kesopanan pak,saya harap,anak bapak meyudahi hubungan itu,apa bapak mau kita semua di pecat gara gara itu?" sambung sang atasan dengan kata kata makin bertekanan berat.
"saya taulah pak bagaimana perasaan bapak,karena saya juga punya keluarga seperti bapak,cuma kebetulan saya ndak pernah punya hubungan dengan organisasi cap hitam,yahhh anggap saja anak polah bapa kepradah...jadi sekali lagi maafkan saya ya pak Parjiman,atau pak Parjiman mau mengundurkan diri secara sukarela dari kantor kita?yang sudah kita perjuangkan sama sama semenjak dulu dengan perih getir kita pak?..monggo silahkan bapak pikir kanthi wening dan saya tak mau kehilangan rekan kerja seperti bapak yang sudah saya anggap sedulur sendiri" dengan wajah sedikit masam sang atasan melanjutkan kata katanya," huh sedulur?perih getir?hehehe panjenengan ironis pak",jawab Parjiman dalam hati.
"ingat nggih pak Parjiman"
"saya selalu ingat koq pak,bahwa saya keturunan cap hitam yang tak termaafkan,yang dosanya segunung yang dengan dosa saya yang segelintir ini dosa tersebut bisa menenggelamkan bumi ini,bukan hanya kau bos,bukan hanya perusahaan ini bos,bukan hanya negara ini bos,bukan hanya kecoak kecoak bosss,bahkan Tuhan sudah mewakilkan kekuasaaNYA itu kepada bos beserta atasan atasan boss yang masih saja repot bahwa sebuah hubungan anak bau kencur bisa menghancurkan reputasi dunia,bahwa itu sebuah kemustahilan,bahwa aku harus berkaca diri,bahwa aku kecoak yang tak pantas berwawan rembug dengan strata panjenengan semua,kan panjenengan mungkin malah lebih dewa daripada dewa di langit,eh nuwun sewu bos koq lidah mu makin terjulur julur gitu? kupingmu makin panjang? bahwa hubungan anak dengan anak bos adalah sebuah asusila,tak boleh hukumnya,nanti Tuhan marah,nanti kursi panjenengan kotor,nanti rumah panjenengan bau rakyat jelata,tak boleh,eh bos lidahnya lho jangan di julur julurin ah",Parjiman tetap membatin tanpa bisa berkata dengan kenyataan.
Dan ketika Parjiman melewati meja teman teman kerjanya,ah wajah wajah itu koq mirip sang atasan kupingnya mulai pada tumbuh memanjang,hidung menghitam lidah terjulur...ahhh mungkin kaca mataku sudah makin tebal minusnya.

          Pagi,Parjiman menyiapkan diri berangkat kerja,ditengoknya sebentar kamar sang anak,masih tidur telungkup,nampak bantalnya tergenggam erat,lusuh seolah bantal basah kuyup itu tak mau ia lepaskan,ia telan bersama wajahnya,"maafkan bapakmu ya nak",hari ini Parjiman berketetapan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja,"di pikir lagi pak,nanti kita mau makan apa",kata istrinya dengan sembab dimata melepas kepergian Parjiman,padahal biasanya berangkat kerja ya berangkat saja,"kalau kita jualan di pasar adakah yang beli kepada manusia hitam macam kita pak? tapi aku juga ndak tega sama genduk itu pakkkk,duh Gustiii nyuwun pangaksami,mbahhhh mugi panjenengan sumare kanthi tenang nggih mbahhh,wes budalo kono pak...." sebentar Parjiman mencium pipi istrinya dan menghisap gulir airmata dengan dada yang pecah meledak.

          Keluar rumah nampak pula tetangga sebelah kanan kiri dengan kesibukan sama,berbaju kerja,bersepeda motor,bermobil,atau jalan kaki menuju pemberhentian kendaraan umum terburu buru,Parjiman tertegun menghadapi pemandangan hari itu,semua tetangga berwajah kompak,telinga panjang berujung lancip,hidung menghitam,mata awas,lidah panjang terulur,wajah wajah asu? hah semenjak kapan asu berkemeja rapih,berdasi?Parjiman makin bingung.

          Di sepanjang jalan menuju kantor Parjiman tak henti bergumam lirih sebentar bentar menyebut nama Tuhan,sebentar bentar mengelap kacamata minusnya,baru saja ya baru saja dia melihat mobil mewah sang atasan dengan hapalan plat nomornya tetapi alangkah kagetnya dia,sopir itu dia kenal betul sopir pribadi sang boss,koq penumpang di dalam nampak berkepala asu? itu baju kerja bos bukan? ah iya itu baju bos! itu baju anak bos yang masih kuliah bukan? ah iya itu baju anak boss! tapi kepala kepala itu koq bukan kepala yang selama ini ia kenali,itu kepala kepala asu,ah kaca mataku kaca mataku sudah mesti ganti,iya mesti ganti!.
Parjiman duduk makin gelisah di bangku bus,sebagian penumpang terlihat tak jenak pula mungkin takut telat masuk kantor,tapi fenomena apa ini?kenapa isi bus sekarang mahluk mahluk berbaju seragam namun sebagian besar berkepala asu?apakah planetku sudah di jajah sama mahluk planet asing? kepala Parjiman mulai pusing.

          Tiba di dekat pintu gerbang kantor Parjiman sempat melirik kantor kantor lain yang siap melakukan upacara pagi,di pelataran kantornyapun terlihat mulai siap berbaris,tapi keanehan makin menjadi jadi,sebagian besar mahluk mahluk itu berkepala asu dengan lidah terjulur julur,memang satu dua wajah wajah itu tetap wajah manusia,wajah temanyapun terlihat beberapa nampak jelas bahwa itu wajah teman yang ia kenali betul,namun itu hanya satu dua terjepit diantara lautan manusia berwajah asu! coba kutengok kantor lain...hah! betulkah itu? betulkah? ini pasti kerjaan para penghuni planet lain,ah bukan,ini pasti mataku makin rabun,Parjiman sebat memalingkan langkahnya dengan lebih tergesa gesa,berbelok di gang depan tempat ia makan siang,tak berani ia menatap wajah wajah berpapasan baik dari dekat atau dari jauh,sekarang ia bersiap menyeberangi jalan besar itu,di seberang jalan sebuah papan berukuran 50 centian tertulis dengan cat hitam "klinik mata dr Fulan,buka tiap hari kerja,pukul 08.00 s/d 20.00".


Untuk sahabatku terkasih.
Bogor, Sabtu 07/05/2011, 02.30 WIB

"widhi hS"

Kidung Kesaksian Raga

:untuk Tarian Gatotkaca Gandrung


oh mungkin guci guci itu habis sudah isi
perwitasari,air kehidupan
Jatayu,tak lagi terbang mendamba
hinggap berkelindan diruang tanpa batas

Bunda,lampuskan aku!

lintang alihan-lintang alihan
kutitip rindu terlekang pada teduh bumi
andai iya,andai iya kau Bapa Harjuna
meletak cinta kuyup di dada Pergiwa
larutkan jua di didih sunyiku
lepuh
labuh

Bunda,mungkinkah aku pemuja tergila?

bintang sabit kerat telah
usai di kikis malam tercekam
dilindas budi si mati
setiap nama dikenang pada itu
kiprah terbaik kehidupan
harum sesapnya melebihi kembang swargaloka

Bunda,restu langit dan jagat kumohon!

agar culas Hastina tak meluluh lantakan keadilan
keserakahan mesti sirna meski tak tersisa seujung kuku sekalipun
melahirkan putra terkasih untuk menjaga jernih nurani
sang pamomong sejati menjadi kunci
untuk tegaknya kendi kendi di langit sap pitu

Bunda,aku tak gila bukan?

dinda Pergiwa
sihir matamu panah membius
di jantungmu adalah degupku
di hatimu tarikan nafas hidupku
nadi darahmu aliran denyutku
jangan kemaraukan citamu

ooo cakra manggilingan
sepuhkan bara mutiara di tilam sari
roncekan kabut kabut sekar mlati rupa peni
bukan hanya raga namun sang sukma
tali temali sutra
rintik teritmis
dikemudian hari
menujumu

langit putih-hati putih
kembali bunga bertaut wangi

senja melembayung
menyanyikan kidung asmaradana

kahyangan penuh suka andrawina

esok putramu lahir,memanggilku
:Bapaaaa...


Margonda, 12/05/2011 00.30 WIB

ket: gambar oleh google

Sebuah Kesaksian Pedih

:dan semesta kembali menderaskan airmata!

jika malam lah larut
lah larut malam
jiwa raga esok masihkah bertaut?

batu batu menyala merah
ababil melayang garang

keserakahan
kesombongan
kelicikan
:semua terbakar

angkara lenyap tak berbekas

nyanyian parau

akankah kembali hening?

kesadaran jiwa
[kedaulatan hidup terkebiri!!!]

mengintip Tuhan
:Ia tersenyum menatap kejujuran

tunduk!
remuk!

13 Mei 2000
"mengenang mei 1998 yang penuh darah"

Gejolak



adakah rindu begini gebu
juga tak ada lagi lari teramat pacu
kalau bukan hendak menuju
seluruh pada harap rengkuhmu
wahai bunga dititik sunyiku

sungguh geletar pencarian
melatakan seraut takan samar rupa
ini cekam amat siksa sungguh gulana
hanya rapal namamu sepanjang waktu
kugumamkan sepenuh hati selalu tak jemu
o kesaksian

maka biarkan aku menuntaskan
atau meski kutikam saja ini rasa
mencacahnya hingga meremah lara
kemudian menyelam kedasar terdalam

kau keharuman putih
kusimpan dihati nan perih

Depok,10/07/2011, 02.45 WIB

ket: gambar oleh google.

Selasa, 17 April 2012

Sendratari Kasetyaning Pembayun

:Ki Ageng Mangir Wanabaya

 Mijil:
 Dhuh Pembayun / Pudyanku wong kuning/Cahyane mancorong/Gandhes luwes kewes wicarane
  Dhuh kakang paduka pundhen mami / Kawula sayekti bekti marang kakung//...

~Jantung Hati:
selepas malam
dendang dan wayang
ledhek merentas jurang
hati ingatan mengikat kenang
meraba warangka dipinggang

 

   kuselami sunyi
   agar menemukan arti
   mengais hatimu yang setenang sejuk pagi
   kutimpuhkan kaki manunggal semedi

+Pembayun
disawah cangkul bergandeng sabit
kerbau kerbau menarik bajak
kuintip senyum manis telaga
binal menggoda tandak sampur selendang
kucium lenguh nafasmu dinafasku
kuantar kau untuk bakti

-Kakang Mangir
kuantar kau mempertemukan kening dengan sujud
membuka pintu alam merdeka
bebas melayang merenda mayapada
hujan menyeka langit basah
kerismu tanpa cela
berbahan warangka hati
luk sembilan tujuh atau tiga
ganjil karena Sang Ada menyukai hitungan ganjil
penggenapnya adalah raga masing masing jiwa

kakang Mangir
curiga wus manjing warangka
darahmu menggelegak menggelinjangkan rahimku
senyum pasrahmu bercinta dengan maut
meniti nirwana penuh keagungan

tegak leher luruh
bersama sorot tajam mata
menelajangi hunus watu gilang
lenyap menyatu dengan Yang Tiada
menyenggamai puja
lahirkan semesta

watu gilang terbalut tubuhmu
[separuh ragamu terbaring disana
separuh lainya kau tetap bersama tanah perdikan Mangir
dimana rakyatnya mencintai dan kau cintai]

-watu gilang sujud akbar
asap dupa stanggi
kembang setaman
tirta perwitasari
sembah bakti
lebar tangan sambutan kekasih
darah suci tertumpah
memecah kebekuan
[darahmu mengguyur menyiram bumi
pupuk subur tetumbuhan hijau]
gending mengalun pelan nganyut tuwuh
............................campuh

~[segerombol kanak kanak ditanah lapang bergembira ria berhasil menaikan layanglayang keudara mengatur tali kekang mereka meneriakan namamu
"Ki Ageng...Ki Ageng,benihbenih tlah tumbuh tunas
kau pertemukan biji dengan tanah
Ki Ageng...Ki Ageng,benihbenih tlah tumbuh tunas..." dan tawa polos itu.]

Dhuh Pembayun / Pudyanku wong kuning/Cahyane mancorong/Gandhes luwes kewes wicarane
Dhuh kakang paduka pundhen mami / Kawula sayekti bekti marang kakung//...

Depok,08022010.01.21 wib


catatan:
membaca lagi sejarah atas sendratari itu
dan kubayangkan sebuah episode dariku

_ tarian kasetyan,foto by google

:- Mangir
Pramoedya Ananta Toer

- Babad Tanah Jawi
sejarah versi De Graaf/Babat Mangir Balai Bahasa.

kepada mereka terimakasih banyak inspirasi "Mangir"nya
juga Ki Ageng Mangir itu sendiri,seribu salam dan terimakasih

Silau Neon Merampas Purnama DiKampungku

...perlahan namun pasti beton beton itu tumbuh juga dikotaku
bak jamur dimusim hujan,subur tanpa semaian
purnama bersinar muram menunggu sapaan...
purnama...terkucil sendirian kelu


tak kudapati lagu jamuran atau cublak cublak suweng
yang penuh cekikik perawan kencur...
tak pula suara berisik berpetak umpet


bahkan tahta purnama tergeser oleh silau lampu neon
gedebuk kanak kanak kisruh mengisi tanah lapang malam terang
tergantikan peran kotak ajaib penuh ilusi
macapat dendang nasehat menyenyumkan kerling bintang
tergantikan mesin elektronik yang menjual mimpi
nyanyi jengkrik senda burung malam alpa
pohonan beton menyingkirkan pula rindang dedaun
kesantunanpun perlahan tanggal


hei dimana pula tarian kunang dengan kerlipnya dari kuku simati
dan bau rumput basah genang lumpur....


Kang Kusen,Yu Tarni,Lek Jiman..senandungkan padaku sekar pucung itu...
kunikmati sambil berlarian menghindar bayang oleh terang purnama


kutemukan pula kuda pelepah pisang mati kedinginan terkulai membusuk...layu
mata air sendang jernih menangis tanpa air mata lagi - pilu
meluruhkan waktu mengurai nestapa jelaga kelabu


purnama tersenyum parau,meringkihkan hatinya tersenda...
berselimut awan gelap mendengar langkah masa silam tlah tua
duhai purnama mengadulah pada Dzat yang membibingmu akan kesendirianmu
kunanti engkau tetap tersenyum-setinggi cahaya malam biru...


Lengkong,Akhir September 2009, 24.25 WIB

"whS"

mohon maaf ini puisi lama yang ditemukan pada secarik kertas

duduk sendiri melihat purnama cantik yang kesepian...
dimana kawan dan handai tolan dulu itu...???

menatah purnama memunguti keping masa silam
[untuk teman teman semua yang berawal dari kampung
salam sejuk damai purnama bersinar abadi]

Campuh:Tahta dan Gejolak



:Kidung Ken Arok untuk Ken Dedes

                                   "Lalu terhapuslah kutuk Mpu Gandring
                                    Tertebus pengorbanan Ayu Ken Dedes
                                    Tlah moksa riwayat 7 keturunan
                                    Tertulis selembar lontar “kumaafkan”
                                    cunthel"

bara bintang dalam genggamu
menyerta bulan biru serengkuh pesona
yang tergelar pada silam dan masa datang
tiada beranjak dari ketimpangan keketimpangan
waktu terhentikan oleh luk keris
merantas nyinyir menyericau keraguan
melumat wajah Ken Dedes ….
Bersama kilau dibetisnya
          [tapi akukah Arok?….?]

sedang aku membawa menggelar dupa rupa bunga bunga
…..sepenuh telaga pemandian raja
…keiklasanmu
padat penuh wangi  tetesnya
[ kilau dibetisnya tahta untukmu Arok…..!!!
            mungkin suara Lohgawe
            yang terpahat jelas pada dinding masa silam]


kesakitan perih menggurat biru tajam
dari padas padas seringai iblis
angin menggayut merintih getas seperti aum
pedas laknat berjubah manis
…………..mungkin kau tiada daya untuk sekedar teriak
……..meski jenjang kaki tak bohong bicara
          [ya…ya..ya dari tegarmu serta tanda dibetismu
           ………kaulah keturunan Ayu Ken Dedes…….
          kenapa pula tahta melahirkan tumbal tumbal
          keegoisan dan kelicikan berjubah kaum suci
          setiap mata menatap dengki yang bertabir]


Sunting….sunting…suntinglah  dia  Arokkkk!!!
Jadikan permasuri ditahtamu…gapailah agar kau tahu
Dari indah garis pelangi melarikan safir lembut
Dari kuasa yang dipaksakan mendera punggung
Kentara bekas siksa itu terajah disana…..

Akulah Dedes…anak Brahmana cucu dewa
          …kelak kulahirkan raja raja…
rampungkan sejarah itu lalu putihlah
biar semua jadi senyum sejarah
selisihlah menyisih
pudar angkara pada dinding api
          [gema masa silam terus menjalar…menyuarakan bisikan
 harumnya kidung si cantik sayu Ken Dedes
 benarkah dendam tak beranak pinak?]

barang siapa yang telah menculik Dedes putriku, maka ia akan mati akibat kecantikan Dedes...!!!
[pada bulan tergurat jua prasapa Mpu Purwa terlontar takala Dedes tercerabut paksa dari Panawijen
Sang Dara jelita terampas oleh Ametung...
merah padam menahan gejolak wajah sepuh mpu Purwa]

tiada janji teringkar,basuhlah pada ricik pandan
teruwat nyanyian gimbal bajang
          [Anusapati dan Tohjaya mengiya bersenyum damai]


Arok…Arok..telah lepas segala kutuk
Pudar hangus hilang bentuk
Lenyap…menyepi kerna tlah tertebus
Mengkabut dicakrawala terhantar tembikar nyala..lebur
          [Mpu Gandring turut menepikan salam,kumaafkan kau Arokkk
          tapi tak kumaafkan kenistaan nan picik...
          kembali menyarungkan keris ke raganya...]


baik baik agar Raja tetap lahir
agar kutuk hanyut lebur menghias jemari malam
hingga kubah kubah terang tanpa silau
keagungan merambah dawai dawai kecapi
          damai turun dibumi,hiaskan dia ditubuh ini
          angin bumi api kayu besi alam raya
Ya Raja segala Raja lumatlah kutuk itu
agar aku bisa menyelempangkan sampur halus sutra
          [segenap sejarah pada lorong keramat..
            tersenyum bergandeng berpeluk salam…]

jaga Dedesmu Arokku…………
wus wancine rahina datan saged anginggati karsa*
          [tertulis pada binar pesona warna laut lepas]

                   01,.27 WIB nyanyi wangi malam….
                   dibetismu ada jejak Ken Dedes
                   yang lahir kembali untuk mencabut kutuk



Depok,20/11/2010

note:
membaca kembali Arok Dedes nya Pramoedya Ananta Toer
lalu Babad Tanah Jawi,Pararaton Negarakretagama
menjadikan mimpi aneh yang lahir dari sebuah tanya?
"kenapa tahta mengorbankan banyak tumbal?harta,nyawa,kehormatan
tak bisakah kedamaian yang guyup meraih itu semua
dan rukun makmur sentausa selamanya?"
Dampar Kencana megah itu ada lumpur darah

*[.. ketika waktu tlah datang tak sempat lagi berpaling]

Pramoedya Ananta Toer:atas novel yang hebat itu,terimakasih banyak .
Novel novelmu selalu hebat:semoga kau tenang di sisiNya

Bambang Sumantri Pada titik Beku



: perjamuan Sumantri untuk Sukasrana sesaat usai panah lepas

Sang ksatria terjerabab dalam renung,habis fikir pelita hati,seakan pelita itu sinarnya goyah terurai angin jahat,pun awan gelap membentuk badai....lunglai segenap rasa dan jiwa,usai panah itu menyelinap membawa terbang Sukasrana:
"ah adinda dosa apa yang kusandang?"
dipeluknya jiwa raib adinda
"usai taman sriwedari kau putar menjadi taman kraton,usai kasihmu kau pasrahkan halus tulus kuputus nyawamu dari badan"
        [ooo satria hapus duka dan sesal,sebab itu takan menyurutkan langkah
        pantang satria merintih menyesali nasib yang tlah lewat
        kembali engkau bangkit,setiap laju langkah pantang berbalik arah
        panggul saja semua yang tlah kau perbuat.
        teringat kembali Ardisekar bersama Sang Resi,
        ditantingnya kejumudan diri....
        ooo tanganku bersimbah darah mu adinda]

lukanya amat luka
perihnya teramat perih
tak bisa ia berlari dari kisah
:dosa?
         [seandainya aku tak usah menjadi Mahapatih?
         cita cita yang menjadi kuburan buat adinda.....
         kabur angan hanyut pada airmata yang mengabut
         cita cita janganlah membutakan mata...
         gapai kilau cahaya jiwa ada pada nurani
         senantiasa ada suara bening meski lirih ]

duhai jiwa duhai raga
menyatu dalam satu kehendak
engkau raga tiada mungkin berkeinginan
sedang jiwa tertulis pengertian murni halus
         [ah pengertian macam apa aku ini adinda...peragu tiada alang]

kehendak bhakti,abdi,pada darma takluk kepada-Nya semesti berjalan dalam kasunyatan, tak seperti membalik telapak tangan kemudahanya, namun akan ada kawah candradimuka coba serta goda, ketika semua tertaklukan maka di terima pula ia sebagai hambaNya,sedang keluhuran-Nya tiada bisa digambarkan
         [godaan ini teramat berat adinda
         bahkan belum usai cobaan tlah kumangkatkan engkau...
         tak guna lagi airmataku,tak guna lagi pengabdianku...]



"Kakang kutunggu engkau di gerbang Nirwana
pintunya akan terbuka ketika kita sowan bersama"
o jiwa ketika kau mencari keluhuran ajaklah juga raga
   ...... o.....
        [raga akan kembali menjadi bumi
        jiwalah yang menghadap Kang Sejati
        bisikan batin pertama utama,setelahnya adalah godaan]

tiada lagi arah tiada lagi kiblat
Sumantri tenggelam dalam alam awang uwung
menyatu...satu
kususul engkau.
hening
sidhem

kewaspadaan bukanlah sebuah ketakutan teramat sangat

godaan akan terbalut manis dimana mana serupa madu
hendaknya jangan bermain api
ia akan membakar
jangan bermain air
ia akan menenggelamkan
sekedarnya saja
semurwatnya saja
dan ketenangan kau dapat

#Srengenge wus angslup,blencong blencong kapancar kanthi samar repet repet

*rep sidem permanem tan ono huno huni
tan ono walang talisik..........
saungkure goro goro
ono bocah bajang sakembaran
sing siji nggowo bathok unine kanggo nawu segara
kang sawiji nggowo sodo lanang kanggo nyapu jagat

Tidak Tertanggal  Juli/2010.
Usai nonton Wayang Orang "Sumantri Ngenger"


aku ingin menemukan jejakMU
tak hendak aku jadi satria karena aku harus mencari segala apa semesta
tak bisa aku mendapati cerita mulia dari tukang cendol dan serupanya
-segalanya akan kutanyakan pada punakawan,karena mereka akan menatapku keatas penuh takut
melainkan punakawanlah yang bisa bertamu keatas dan kebawah dengan riang diterima sambil memunguti serpih kebajikan
Tuhan aku ingin mencintaiMu karena memang aku mencintaiMu
Tuhan
aku curiga dengan diriku...
Tuhan
aku ingin menemu tapak jejakMu
 [nyanyi senja Ki Petruk Kantong Bolong.....]
[inspirasi atas obrolan dengan penyair multi talenta Faizal Komandobat...terimakasih banyak obrolanya Gus...salam bahagia untukmu ]

UI Depok,2010



keterangan:
#Matahari tenggelam,pancar pelita menyala remang ada bayang mengendap
*keadaan sungguh sunyi sekali
bahkan tiada belalang bersuara
usai sudah keriuhan
lantas muncul 2anak kembar
yang satu membawa batok untuk menguras laut
yang satu membawa lidi untuk menyapu alam

nonton Wayang Orang berjudul Sumantri Mengabdi
kembali tentang tahta yang bersimbah darah...???
mestikah seperti itu?

ket: gambar di ambil dari google