Selasa, 17 April 2012
Bambang Sumantri Pada titik Beku
: perjamuan Sumantri untuk Sukasrana sesaat usai panah lepas
Sang ksatria terjerabab dalam renung,habis fikir pelita hati,seakan pelita itu sinarnya goyah terurai angin jahat,pun awan gelap membentuk badai....lunglai segenap rasa dan jiwa,usai panah itu menyelinap membawa terbang Sukasrana:
"ah adinda dosa apa yang kusandang?"
dipeluknya jiwa raib adinda
"usai taman sriwedari kau putar menjadi taman kraton,usai kasihmu kau pasrahkan halus tulus kuputus nyawamu dari badan"
[ooo satria hapus duka dan sesal,sebab itu takan menyurutkan langkah
pantang satria merintih menyesali nasib yang tlah lewat
kembali engkau bangkit,setiap laju langkah pantang berbalik arah
panggul saja semua yang tlah kau perbuat.
teringat kembali Ardisekar bersama Sang Resi,
ditantingnya kejumudan diri....
ooo tanganku bersimbah darah mu adinda]
lukanya amat luka
perihnya teramat perih
tak bisa ia berlari dari kisah
:dosa?
[seandainya aku tak usah menjadi Mahapatih?
cita cita yang menjadi kuburan buat adinda.....
kabur angan hanyut pada airmata yang mengabut
cita cita janganlah membutakan mata...
gapai kilau cahaya jiwa ada pada nurani
senantiasa ada suara bening meski lirih ]
duhai jiwa duhai raga
menyatu dalam satu kehendak
engkau raga tiada mungkin berkeinginan
sedang jiwa tertulis pengertian murni halus
[ah pengertian macam apa aku ini adinda...peragu tiada alang]
kehendak bhakti,abdi,pada darma takluk kepada-Nya semesti berjalan dalam kasunyatan, tak seperti membalik telapak tangan kemudahanya, namun akan ada kawah candradimuka coba serta goda, ketika semua tertaklukan maka di terima pula ia sebagai hambaNya,sedang keluhuran-Nya tiada bisa digambarkan
[godaan ini teramat berat adinda
bahkan belum usai cobaan tlah kumangkatkan engkau...
tak guna lagi airmataku,tak guna lagi pengabdianku...]
"Kakang kutunggu engkau di gerbang Nirwana
pintunya akan terbuka ketika kita sowan bersama"
o jiwa ketika kau mencari keluhuran ajaklah juga raga
...... o.....
[raga akan kembali menjadi bumi
jiwalah yang menghadap Kang Sejati
bisikan batin pertama utama,setelahnya adalah godaan]
tiada lagi arah tiada lagi kiblat
Sumantri tenggelam dalam alam awang uwung
menyatu...satu
kususul engkau.
hening
sidhem
kewaspadaan bukanlah sebuah ketakutan teramat sangat
godaan akan terbalut manis dimana mana serupa madu
hendaknya jangan bermain api
ia akan membakar
jangan bermain air
ia akan menenggelamkan
sekedarnya saja
semurwatnya saja
dan ketenangan kau dapat
#Srengenge wus angslup,blencong blencong kapancar kanthi samar repet repet
*rep sidem permanem tan ono huno huni
tan ono walang talisik..........
saungkure goro goro
ono bocah bajang sakembaran
sing siji nggowo bathok unine kanggo nawu segara
kang sawiji nggowo sodo lanang kanggo nyapu jagat
Tidak Tertanggal Juli/2010.
Usai nonton Wayang Orang "Sumantri Ngenger"
aku ingin menemukan jejakMU
tak hendak aku jadi satria karena aku harus mencari segala apa semesta
tak bisa aku mendapati cerita mulia dari tukang cendol dan serupanya
-segalanya akan kutanyakan pada punakawan,karena mereka akan menatapku keatas penuh takut
melainkan punakawanlah yang bisa bertamu keatas dan kebawah dengan riang diterima sambil memunguti serpih kebajikan
Tuhan aku ingin mencintaiMu karena memang aku mencintaiMu
Tuhan
aku curiga dengan diriku...
Tuhan
aku ingin menemu tapak jejakMu
[nyanyi senja Ki Petruk Kantong Bolong.....]
[inspirasi atas obrolan dengan penyair multi talenta Faizal Komandobat...terimakasih banyak obrolanya Gus...salam bahagia untukmu ]
UI Depok,2010
keterangan:
#Matahari tenggelam,pancar pelita menyala remang ada bayang mengendap
*keadaan sungguh sunyi sekali
bahkan tiada belalang bersuara
usai sudah keriuhan
lantas muncul 2anak kembar
yang satu membawa batok untuk menguras laut
yang satu membawa lidi untuk menyapu alam
nonton Wayang Orang berjudul Sumantri Mengabdi
kembali tentang tahta yang bersimbah darah...???
mestikah seperti itu?
ket: gambar di ambil dari google
Kesaksian
kepada Sang Bhisma
.... perih jiwa
raga itu melontar darah
pada cermin
ia membagi
menyenggama kesatuan puja
usai tajam panah merampungkan tugasnya.sang Bhisma berkenan menuturkan kerinduan persatuan dalam keragaman.Yudhistira satria berdarah putih mengiya santun penuh haru.berikutnya Arjuna terlempar dari arena perang
[setelah semalam Kresna merunduk runduk mengintip kelemahan Sang Bhisma
yang sedang bertafakur dalam kemah perangnya...
Kresna usah kau mencuri dengar,hadapkan aku dengan prajurit putri,maka disitulah semayam ruhku...sebab aku takan pernah berperang dengan kekasih jiwaku.....bisik Bhisma dengan aji pamelingnya,ah Brahmana itu mengungkapkan kelemahanya sekaligus tanda bhakti suci untuk sosok wanita....pancar blencong redup]
dan gelar perang menuju saat saat terakhir.....
Bhisma:
ah takkan kulepas kilat panah menujuku.biar kusambut kekasih membawa serta ruh jiwaku.hapus segala airmata untuku,sebab kematianku benar dan nyata adanya,inilah sebuah janji yang terpatri
lewat tajamnya kerinduan,tak pernah salah srikandi membunuhku.sumpah prasapa prajurit dimedan laga
ditanganya tertitip sanggar pamujanku
perang tlah digelar
pantang diurungkan
panji panji berkibaran
pantang diturunkan
meski sehasta tiada kusurutkan langkah
walau ragaku tinggal selembar
meski perang bukanlah penyelesaian tunggal
namun janji adalah bakti
sang ksatria teguh menuju Tuhan,obor obor menuntun asap dupa stanggi.Sang Bhisma diantar kiprah budi kerti mendapati nirwana,senyum pasrah suka cita
Amba aku sambut panggilanmu
Amba:
kakang kusambut engkau kujamu serta tlah kusiapkan tilamsari menerima kedatanganmu
Srikandi luluh lantak tak bersuara.kehilangan segala kuasa.sesal bergayut dari lesatan panah ditangan.
hidup bukan hanya sekedar hitam putih,abu abu sering menggoda dalam timpuh meditasi.
Nirwana?selaksa iming iming hadiah kanak kanak,tanpa nirwana masihkah ada sebuah puja?
tangis langit pecah merobek hening
satriya yang setia menjaga sumpah hingga ajal menjemput
menjaga perih dihati
genang darah
berbantal anak panah
serta meneguk air cucian senjata perang
lelaki sejati berkeharusan menjaga darma
dewa dewa turun menebar rangkai bunga bunga,menyambut lelaki sejati berpulang,tergelar sutera halus tampak langkah jalan menuju langit swargaloka.langit runtuh murung mengalir deras hujan tangis,prahara senyap seketika....
Bhisma,jiwa besar bingkai cermin
tempat berkaca ksatria sejati....
Jadilah selaksa daun pepaya,jelek pahit tiada tara namun memberi khasiat obat yang luar biasa,menenangkan gejolak ketika jiwa memberontak
Lengkong,1 januari 2007,pada temaram senja yang mistis
"whS"
:keprihatinan diperang besar padang kurusetra
.... perih jiwa
raga itu melontar darah
pada cermin
ia membagi
menyenggama kesatuan puja
usai tajam panah merampungkan tugasnya.sang Bhisma berkenan menuturkan kerinduan persatuan dalam keragaman.Yudhistira satria berdarah putih mengiya santun penuh haru.berikutnya Arjuna terlempar dari arena perang
[setelah semalam Kresna merunduk runduk mengintip kelemahan Sang Bhisma
yang sedang bertafakur dalam kemah perangnya...
Kresna usah kau mencuri dengar,hadapkan aku dengan prajurit putri,maka disitulah semayam ruhku...sebab aku takan pernah berperang dengan kekasih jiwaku.....bisik Bhisma dengan aji pamelingnya,ah Brahmana itu mengungkapkan kelemahanya sekaligus tanda bhakti suci untuk sosok wanita....pancar blencong redup]
dan gelar perang menuju saat saat terakhir.....
Bhisma:
ah takkan kulepas kilat panah menujuku.biar kusambut kekasih membawa serta ruh jiwaku.hapus segala airmata untuku,sebab kematianku benar dan nyata adanya,inilah sebuah janji yang terpatri
lewat tajamnya kerinduan,tak pernah salah srikandi membunuhku.sumpah prasapa prajurit dimedan laga
ditanganya tertitip sanggar pamujanku
perang tlah digelar
pantang diurungkan
panji panji berkibaran
pantang diturunkan
meski sehasta tiada kusurutkan langkah
walau ragaku tinggal selembar
meski perang bukanlah penyelesaian tunggal
namun janji adalah bakti
sang ksatria teguh menuju Tuhan,obor obor menuntun asap dupa stanggi.Sang Bhisma diantar kiprah budi kerti mendapati nirwana,senyum pasrah suka cita
Amba aku sambut panggilanmu
Amba:
kakang kusambut engkau kujamu serta tlah kusiapkan tilamsari menerima kedatanganmu
Srikandi luluh lantak tak bersuara.kehilangan segala kuasa.sesal bergayut dari lesatan panah ditangan.
hidup bukan hanya sekedar hitam putih,abu abu sering menggoda dalam timpuh meditasi.
Nirwana?selaksa iming iming hadiah kanak kanak,tanpa nirwana masihkah ada sebuah puja?
tangis langit pecah merobek hening
satriya yang setia menjaga sumpah hingga ajal menjemput
menjaga perih dihati
genang darah
berbantal anak panah
serta meneguk air cucian senjata perang
lelaki sejati berkeharusan menjaga darma
dewa dewa turun menebar rangkai bunga bunga,menyambut lelaki sejati berpulang,tergelar sutera halus tampak langkah jalan menuju langit swargaloka.langit runtuh murung mengalir deras hujan tangis,prahara senyap seketika....
Bhisma,jiwa besar bingkai cermin
tempat berkaca ksatria sejati....
Jadilah selaksa daun pepaya,jelek pahit tiada tara namun memberi khasiat obat yang luar biasa,menenangkan gejolak ketika jiwa memberontak
Lengkong,1 januari 2007,pada temaram senja yang mistis
"whS"
Langendriyan Asmaragama II
:demi mokswanya Sang Shinta Suci
pancar pada rembulan tak lagi elok meski masih sinar kemarin
Rama Sang Raja besar bersimbah keraguan
keraguan kepiting tertelan ular hidup hidup
mencekik kesadaran yang tempias
betapa jelas tetes hujan terakhir pada ujung daun diluar sana
beku matahati,tuli telinga batin,mencercap kepodang centil
pada pisowanan agung sesiang tadi
dua lelaki kembar mengetuk jantung
dalam Aswamedha,merdu lah merdu kidung si kembar
"iyakah oh Lawa oh Kusa...darahku mengalir dinadimu?
kesumbangan di luar sana menghujan derasnya,gemuruh
pembakaran dan pembuangan masihkan ada yang lebih menyakitkan"
cericit kelelawar malam meninggalkan pula pesan
"ooo malang nian sang Putra Dasarata,duhai Raja besar usir keraguan dihatimu,selayaklah titisan Sang Dewa tentukan satu saja nyalakan sejumput bintang,tetapkan iya atau tidak,usah kau terbuai alunan nada sumbang diluar sana,ooo malang nian Raja besar galau dalam sikap"
-"Kanda,andaipun masih dalam kebimbangan,seperti mula,pembakaran patuh kulalui lalu pembuangan sebagai sembah bakti abdi kujalani kanda,tak yang lain,tak yang bukan,tak sesiapa atas jiwa ragaku,andai ada jamah Rahwana pada kehormatanku maka biarlah bunda bumi menolak jasadku kanda"
+"Sintaaa,kebesaran mu seayu wajahmu dinda,maafkan aku,aku bukan hanya suami bagi prameswari namun Raja bagi rakyatku,namun bisik itu sungguhlah kerasnya...."
-"usaplah airmatamu,tak baik ksatria besar meneteskan airmata,lakukan saja duhai sang raja,hanyutkan kebimbangan,sebab keraguan adalah lebih jahat dari duri dijalan kita,ia penjegal batin,lakukan sang raja....
pengabdianku pada guru laki takan hangus hanya oleh kerna hukuman
kudarmakan keseluruhan keakuan sepenuh sebulat tekad tak gores
buang aku Rama,cinta takzimku utuh"
Laksmana tertegun mengusap selesat ruhnya membisik,"oh kanda,oh ayunda,oh andai...pun aku...ahhh"
ditatanya hati,digelarnya detak jantung
membuka pintu belantara
mempesiapkan ketekadan
sabda pendhita ratu tak bisa menjilat ludah kembali
sumpah yang tlah terlontar adalah amarah gunung api
mengantar ke pembuangan kembali
perempuan ayu yang tlah tersadar oleh permintaan kijang kecana dahulu,menyempatkan berpamit:
"kakang Bharata,adinda Laksmana,selamat tinggal.kanda Rama aku ingin mencium kakimu untuk kesekian kali,terima sembah baktiku kanda...Bunda Pertiwi,perkenankan aku pulang Bunda,hanya engkaulah tempatku berpulang..."
Pisowanan agung lengang tiada terkira,bahkan semua terdiam selaksa batu,tiada gerak,tiada apa,hingga nafas nafas terdengar jelas sangat jelas...menatap perempuan dengan sinar terang agung disekujur tubuhnya,sinar kemuliaan
melepas kepergian pada langkah lembut teguh ayu,alampun hening seolah menderas mantra mantra kebesaran kesejatian....
entah pada tapak keberapa,bumi merekah,bumi belah,pintu gerbang sang waktu terbuka,Bunda Pertiwi teramat jelita menjemput putri terkasih,diayun kecupnya kening sang putri,dipeluk dekap tubuh molek harum cendana tabur roncean bunga bunga mengiring tertutupnya kembali bumi,rapat,utuh seperti sediakala.Shinta menyatu dengan muasalnya,bumi berkenan menerima kepulanganya...cinta lah abadi...
megatruh berkumandang seakan suara dari kedalaman,mengetuk kebebalan.
apa beda keledai? pada satu jurang terperosok berkali kali,ooo kebodohan,oh pikat duniawi....
kembali sesal sang raja tiada ujung,ditinggalkanya tahta,dilepaskanya gelar,menyepi di aliran Gangga yang teduh menanti kesatuan.
hingar bingar sanjung puji mengalpakan nurani
tahta gejolak benderang duniawi menutup pintu batin
keraguan adalah muara bagi tawa pongah angkara kelam gulana
bakti suci kepada guru adalah bakti jenazah kepada yang memandikan
sungkem tertinggi pada semesta sang hidup
tancep kayon
Depok, tidak tertanggal
catatan:membaca epos Ramayana,dimana setelah menyadari kesalahanya Shinta diuji dengan pembakaran yang luluh lantak,cerita belum usai ia bahkan terhukum buang hingga hayat,bakti tertinggi seorang prameswari,sedang Rama sang raja besar itu......?????
Langendriyan Asmaragama I
: untuk kesaksian pembakaran Sinta Dewi.....
langkah – kendali-rantas
nurani ragu tertatih perih
Bukan pembakaran atas Dewi!!!
Memusnahkan nafsu dunia
Agar hilang langkah alpa
Bara – kalung emas
Pundi pundi mutiara
Keinginan – keinginanlah
- yang liar – bakar!!!
Dari penebusan dosa
Lepaskan lara – bakar!!!
Bukan menghukum Sinta Dewi
Bukan menyangsikan sang cinta
- yang sungguh setianya
Tapi membakar nafsu dunia
Sebab kijang kencana adalah halusinasi – mimpi?
[apa yang kau cari Shinta.....apa yang kau cari....
manis puja puji katakata?]
"Kubakar engkau dengan cinta!!!
luka api basah keringat airmata"
[begitu Ramawijaya berkata]
Sinta Dewi:
"kanda tiada jamah dari Rahwana...aku untukmu saja....
kuasa iblis lah luput cengkeram raga
tiada kugunting lipat cintamu duhai Rama...lelaki pujaningwang....
tutur manisku sembah bekti tak cela.....bukan bungabunga manis bibir belaka
usah ragu kanda...usah ragu...kubaktikan jua...bakar aku....
yakin yakin dan yakin Dhanyang Sinta ucap sembah bakti"
Ramawijaya:
"dari besar cintaku....tak penat asa
Sinta...untuk apa membohong...untuk apa?
kalau itu hanya sekedar basa basi demi kebahagiaan saja...
ketulusan,keingkaran sebuah janji...
katakan Sinta,katakan saja
menjamahkah rahwana kepadamu....???"
"samudra api tergelar untuk pembuktian kesetiaanmu Sinta..."
-memerah padam wajah Sang Raja...
"Kubakar engkau dengan cinta!!!
luka api basah keringat airmata"
[begitu Ramawijaya berkata]
titah raja tlah terlontar
pantang tuk diurungkan
dikecupnya kening Sang Dewi
Sinta tetap dalam ketenangan
tenang
sungguh tenang
teramat tenang menjemput
berjalan menuju puncak balai api
pada laut nyalanya ia menceburkan diri
hening
ribuan penyaksi terpaku berbareng koor suara "ohh"
sambil mendekap mulut
diam
hanya terdengar geletak api memangsa kayu pembakar
makin lamat Dewi Sinta yang halus itu lenyap dari pandang
api membungkusnya
tenang-duduk-menimpuhkan kaki:laku semedi
menyatukan cipta-rasa dan karsa
api enggan menjamah tubuh :kalis
tetap erat melakukan puja brata
pun kesetiaan lunas terbayar:tuntas
dibangsal kehormatanya Ramawijaya raja besar
:tertunduk tiada bisa berkata apa....
[17 April 2010,22. WIB]
kesetiaan adalah suluh jalan terang kehidupan
sedang tahta adalah kursi panas duniawi
lautan api meluruh menjadi hujan kubang bungabunga...
gending mengalunkan sekar asmaradana...
tancep kayon
[Depok Jum'at 23 April 2010]
"whS"
Gedung WO Bharata,Senen, Jakarta 17 April 2010,22. WIB
terinspirasi oleh
pagelaran wayang orang
RAMAYANA - PRAHASTO GUGUR
Depok Jum'at 23 April 2010
lalu pagi tadi melihat 2 angsa putih disebuah kolam
saling meliukan leher panjangnya penuh romantisme
salah satu angsa dengan paruhnya tampak memberikan ikan kecil
kepada angsa pasanganya...pemandangan indah tentu
begitukah Sang Rama memesrai Dewi Sinta
setelah altar pembakaran itu terjadi?
dari api yang tak melumat tubuhnya
serta malu hati Sang Raja kepada permasuri tercinta?
setelah perang besar,setelah banyak korban untuk merebut kembali Sinta
begitu saja Rama membuat upacara pembakaran Sinta?koq tega ya?
Sabtu, 14 April 2012
Dia Yang Tak Bisa Di Lumpuhkan
:nenek sinden keliling
{demi kemiskinan yang menguliti jiwanya
seribu hud hud terbang memenuhi udara ke arahmu
membawa cawan berisi do'a dan salam dari semesta}
bola matahari siang berarak menggelinding
adalah raja sang terik
angin keras dan kering berkabar panas kemarau
nenek berdendang selaksa menghiraukan nasib
berkain wiru murahan,berselendang mengampar tanah
menari sepenuh hati,dideretan toko toko
ia takut didepan instansi
sebab satpamnya sudah tentu segera mengusir tanda tak suka hati
bahwa aku melihat sekujur tubuhnya adalah airmata
kenapa disebalik gedung mewah
dipojok belakang terdapat gubuk liar?
kemiskinan adalah keseimbangan
sekiranya ada kekayaan akan ia dampingi
o ternyata kemiskinan hanya memperteguh hegemoni si kaya
"biar kuseka peluhmu nenek"
"tak usah nak,ini kesaksian di akhir nanti
bukankah Ia mencintai cucur keringat juang?"
senyum pasrahmu pertanda kegetiran
satu cerita hari ini genap sudah
sang nenek menundukan kota
juga menundukan jerit hatinya
memperolok derita dirinya
mentertawakan kemewahan di sekitarnya
senjapun turun sendu pilu gundah
kembali nenek ke gubuk liarnya
usai berbersih diri,menggantungkan selendang
melipat jarik,berganti pakaian tak kalah lusuh
diambin reyot,beralas koran,nenek istirah tertidur
Tuhan tersenyum,menghangati nenek dengan selimut terbaik
membuai ke alam mimpi
Gubeng,Jum'at 21/10/2011 14.20. WIB
catatan kaki: siang itu kulihat nenek pengamen sinden keliling
diteriknya matahari kemarau ini,beliau mencari pengharapan
wajahnya keriput bersulam bedak luntur disana sini
menyanyikan lagu hingga serak,terus menari tak henti
kota semakin pikuk oleh kendaraan bermotor,hari makin panas
sungguh hidup ini betapa bukan
salam dan do'aku untukmu nenek.
{demi kemiskinan yang menguliti jiwanya
seribu hud hud terbang memenuhi udara ke arahmu
membawa cawan berisi do'a dan salam dari semesta}
ketika pagi buta Tuhan mengetuk pintu gubuknya
lalu disapanya ia,"laparkah kau kekasihku?"
"benar ya tuan"
"baik kukenyangkan kau kini"
"terimakasih ya tuan
hamba mendapatiMu saja cukup kiranya"
bola matahari siang berarak menggelinding
adalah raja sang terik
angin keras dan kering berkabar panas kemarau
nenek berdendang selaksa menghiraukan nasib
berkain wiru murahan,berselendang mengampar tanah
menari sepenuh hati,dideretan toko toko
ia takut didepan instansi
sebab satpamnya sudah tentu segera mengusir tanda tak suka hati
bahwa aku melihat sekujur tubuhnya adalah airmata
kenapa disebalik gedung mewah
dipojok belakang terdapat gubuk liar?
kemiskinan adalah keseimbangan
sekiranya ada kekayaan akan ia dampingi
o ternyata kemiskinan hanya memperteguh hegemoni si kaya
"biar kuseka peluhmu nenek"
"tak usah nak,ini kesaksian di akhir nanti
bukankah Ia mencintai cucur keringat juang?"
senyum pasrahmu pertanda kegetiran
satu cerita hari ini genap sudah
sang nenek menundukan kota
juga menundukan jerit hatinya
memperolok derita dirinya
mentertawakan kemewahan di sekitarnya
senjapun turun sendu pilu gundah
kembali nenek ke gubuk liarnya
usai berbersih diri,menggantungkan selendang
melipat jarik,berganti pakaian tak kalah lusuh
diambin reyot,beralas koran,nenek istirah tertidur
Tuhan tersenyum,menghangati nenek dengan selimut terbaik
membuai ke alam mimpi
dipojok trotoar lelaki kecil riap riap rambutnya
menyaksikan cerita hidup sebuah kenyataan
hanya bisa termangu
hanya bisa menangis
dikiranya airmata bisa membebaskan kemiskinan
ah ia teringat Ibunya berjuang demi hidup anak anaknya
"aku tau engkau pasti memaafkan aku
:Ibu"
Gubeng,Jum'at 21/10/2011 14.20. WIB
catatan kaki: siang itu kulihat nenek pengamen sinden keliling
diteriknya matahari kemarau ini,beliau mencari pengharapan
wajahnya keriput bersulam bedak luntur disana sini
menyanyikan lagu hingga serak,terus menari tak henti
kota semakin pikuk oleh kendaraan bermotor,hari makin panas
sungguh hidup ini betapa bukan
salam dan do'aku untukmu nenek.
Kumbakarna
blencong blencong tertata disetiap pojok candi
sesekali sinarnya bergoyang lemah tertiup angin
seorang ibu,begitu tua,rusuh duduk sendiri
Dewi Kekasi:
malam itu semakin sendu
ketika menyisakan nyanyian satwa
ia menghadapku
dengan wajah suntrut semerah dadu
namun tetap memancarkan gemilang rembulan
didedahkan muka seolah ingin kumanja
sementara diluar gerimis menyapa
ia bertutur sambil sebentar tertunduk melakukan sembah
Kumbakarna:
Bunda,aku pamit lampus
purna sudah tugasku
usai sudah hidupku
ketika matahari menyingsing
untapkan aku dibalai balai bambu
dengan rengeng rengeng puja puji kepada Tuhan
dari mulutmu
sebagai pengantar lepasnya ruhku
menuju taman terindah
taman terindah
menantimu
Dewi Kekasi:
dengan reroncean bunga bunga diselempangan tubuh
berbaju jubah putih bersih
menekur ia menekur
ah engkau akan berperang putraku
engkau akan pulang?
engkau panglima dambaan
Kumbakarna:
perang ini jahat
merampas suami dari istri
mencerabut kekasih dari dekapan
menyerobot anak dari gendongan ibu
bahwa perang adalah soal hilang dan menghilangkan
biarkan nyawaku untuk pelunasan hutang
kehilangan kehilangan dan kehilangan
juga masa depan
juga sebagian tubuh
juga kehormatan
membela kebatilan akan terseret dalam arus kebatilan
membela kehormatan adalah hak bagi kemanusiaan
Dewi Kekasi:
kakandamu dalam tekanan anaku
balatentaranya habis
negara porak poranda
tiadakah relungmu berbicara
berada di barisan depan kakandamu
menjadi panglima yang perkasa
menumpas musuh penuh kebanggaan
Kumbakarna:
oooooo bunda....oooo sembahku untukmu
blencong samar,kilat berkelindan
hamba tak sudi membela kemungkaran
sesungguhnya pulangkan sang putri
usai usailah prahara
siapa yang menabur akan menuai
oooo
kejahatan cepat atau lambat akan terhukum
kebaikan akan menyala terang benderang
oooooo bunda....oooo sembahku untukmu
sinar makin temaram berpadu padan kebiruan hening,suara suara tetes embun kerap terdengar
begitu heningnya...angin membisik,awan pelan berarak arak
Dewa Brahma:
hemmmmm
anak muda itu datang kepadaku
melakukan sembah sepenuh tunduk
wajah itu semerah angkara
namun kutelisik hatinya semurni pualam
ia mengharap sesuatu dalam puja
keangkaraanya lenyap
meski saat itu kulihat ia menginginkan tahta
kesucian ilmu tlah menjaganya
ia mendengar nurani bening
Kumbakarna:
ya dewa...ya dewaaa
tenangkan diriku dalam tidur panjang
agar aku tak melihat keangkaraan yang melazim di negeriku
matikan aku dalam hidup ya dewa
puja dan sembahku terimalah
langit cerah beraneka warna
kemudian perlahan menjadi lembut
Ramawijaya:
aku mengenal namanya sejak lama
melalui kabar hembus berhembus
ia begitu harum
lantas dimedan itu aku bertemu
sungguh nyata harumnya
sungguh nyata
sungguh nyata ketulusanya
sungguh nyata
sungguh nyata pengabdian terhadap negrinya
ia memilah
ia memilih
antara tahta dan tugas anak negeri
antara hitam dan putih
ia tentu saja memilih putih
tanpa ragu
penuh tegar
ia berkata tidak dengan kepala tegak
ia berkata siap dengan penuh kehormatan
di dua bolamatanya itu kidung para dewa mengalun
aku tak ragu melesatkan anak panahku
sebab itulah cara mengirimkan ksatria sejati
menuju nirwana
mulialah yang mati di medan laga
sebagai bintang jasa diatas bintang jasa
ia mangkat membawa kemegahan panglima
hujan rintik riwis menangisi kepergianya
angin pilu
seluruh kembang memancarkan wanginya
aku tertunduk berpinta pada hyang jagat
sebuah tempat untuknya
baginya
haknya
kusaksikan dewa dewa menjemputnya
anak terbaik bunda tlah pergi
langit membiru
pohonan membiru
pemandangan membiru
pelangi bermunculan
bunga bunga mekar serempak
lantas malu malu suntrut
dewa dewi berpakaian serba putih
menyambut putra terkasih berpulang
layar pelan pelan menutup
SanggarBambu Tali Awal Desember 2011
keterangan: Gambar di ambil dari Google
Selasa, 10 April 2012
Ia Pemimpin Yang Sebenarnya
sebuah cerita namun bukan mengkultuskan,hanya mengisahkan sebuah suri tauladan kepada yang sebenar benar pemimpin.
begini ceritanya:
kejadian ini terjadi awal 1971 - 1973 menurut sumber cerita [yang masih hidup dan tingkat kejujuranya adalah sudah menjadi barang langka dinegeri ini],dipelosok desa kawasan Jogjakarta.
Mbokde Yem,hari itu pulang terlalu sore dari berjualan dipasar,menggendong karung yang penuh berisi dagangan kala itu juga menenteng tenggok,sebagian dagangan yang tidak habis hari itu sebagian pula belanjaan baru untuk di jual dirumah.dari mula hatinya sudah berpikir bahwa dia sudah tak bakalan mendapat angkutan omprengan menuju kampungnya.
model jualan mbokdhe Yem adalah jualan sayur mayur serta bumbu dapur seperti jahe,kunyit dll kemudian pulang pasar membawa dagangan pula untuk di jual di rumah seperti mie,gula putih,sabun dll,biasanya kalau dagangan lagi laris mbokde mengajak salah satu anak gadisnya membantu berjualan.
mau tidak mau meski berat mbokde Yem berjalan pelan pelan "paling sebelum adzan Isya berkumandang dirinya sudah sampai ke rumah" begitu pikirnya,untuk melepas lelah kadang dari mulutnya mengeluarkan suara rengeng rengeng mocopat.singkat waktu sudah sekitar 1kilo jalan yang ia tempuh,oleh beban berat keringatpun senantiasa membanjir.
tiba tiba sebuah mobil jepp terbuka berwarna biru berhenti disampingnya,dan sang sopir yang bertopi koboi lebar menyapanya tanpa kelihatan wajah "mau kemana mbok?" tanyanya halus
"anu ke desa A"
"ohh lah jauh itu?"
"inggih den" mbokde menyebut sang sopir dengan den.
"mau saya antar mbok?"
"ohh ndak usah,malah ngrepoti" tolak mbokde
"ndak kebetulan saya mau ke desa A disana ada saudara saya"
"siapa saudaranya den?"
"ayolah mbok naik sini"tanpa menjawab pertanyaan sang sopir turun dan segera mengangkat gendongan mbokde Yem ke bak belakang mobil.
kemudian....dengan menunduk nunduk mbokde Yem pun duduk melengkung selaksa udang sebagai penghormatan tersangat di depan disamping pak sopir,namun keanehanya si sopir seakan tak mau kelihatan wajahnya sebab kalau mbokde Yem mencuri pandang dengan melirik kesamping,pak sopir akan membuang wajahnya serta membenamkan topinya dalam dalam.
jeep pun melaju hingga ke desa mbokde Yem dan berhenti persis di depan rumah mbokde yang berdinding bilik itu,serta merta sang sopirpun menurunkan dagangan mbokde,entah karena apa atau mungkin tersangkut sudut karung topi sang sopir terjatuh dan menjeritlah mbokde memanggil seluruh isi keluarga sambil jongkok serta menangis haru
kaget bukan kepalang mbokde melihat wajah teduh yang amat dia kenali itu sedang memungut serta menggibas gibaskan kotoran pada topi lebarnya "o Allah Gusti Pangeran,dalem salah menopo,pakneee pakneee,Ngaisah.Warsiyem,ndukkkk Sringatunnn [seluruh anak anaknya tak luput dari panggilan] ini ada kanjeng Sinuwun...nyuwun duko Kanjeng...hiks hiks hiks,dalem nyuwun duko Kanjeng......"
"uwis mbok...sampun mbok,ampun ngaten...ampun ngaten mbok...." dan sang sopir menolong mbokde agar berdiri namun mbokde kukuh untuk jongkok sambil sungkem kemudian di ikuti bapak serta dua anak gadis dewasa yang tergopoh gopoh keluar dari pintu rumah,sedang si kecil Atun menangis tak tau apa apa turun dari punggung kakaknya.
semua mencucurkan airmata serta menunduk jongkok
"sampun nggih mbok,sampun nggih pak ampun ngaten to...lan bocah bocah kabeh pamit nggih" dan mobilpun berlalu,sebelumnya lelaki teduh itu mencium kening Sringatun yang tetap ketakutan dan berpesan "dadio bocah pinter lan jujur yo nduk"
"nyuwun duko gusti...nyuwun duko sinuwun" bibir mbokde berulang ulang mengucap hingga mobil tak kelihatan lagi.
.................
cerita bersumber dari mbok Warsiyem yang meneruskan profesi mbokde Yem berjualan di pasar,mereka tetap dengan kesederhanaan hingga sekarang,dan mbok Warsiyem sampai saat ini tetap mencucurkan airmata haru ketika menceritakan kisah itu.
"ngendikane Kanjeng Sinuwun supados jujur niku den,pesene swargi simbok kulo supados ampun supe kalih ngedikane kanjeng sinuwun,inggih simbok kulo swargi...mbok mbok hiks hiks" itu ketika di tanya beberapa teman teman saya tentang modal hidup,anak anak Ngasiah dan Warsiyem kebanyakan bergelar sarjana [sarjana sebuah kampus terkenal di Asia yang kebetulan berada di Jogjakarta pula] dan bekerja di daerah Jogja,sedang Sringatun menjadi dokter dikota tersebut.
"lha meniko rak berkahe Gusti" itu ketika anak anak muda memuji keberhasilan cucu cucu mbokde Yem "nggih mergone nglampahi amanahe Kanjeng Sinuwun,ngarso dalem ingkang kaping songo...ingkang koq nggih sampun sumare lho priyagung ingkang sae sanget niko...hiks hiks hiks,nyuwun duko kanjeng..."
"dospundi?dalem supados leren lehe dodolan?o alah den,niko jenenge sesongaran,menawi anak anak kulo mulyo niko inggih namung saking Gusti Ingkang Kuwoso den,kito sedoyo saged menopo to?menawi laku prihatin niko pun tampi nggih syukur ngalkamdulilah,lan anak anak kulo najan sampun mulyo inggih tetep kedah prihatin koq den?"
"dospundi?bondo?halah halah bondo bandu niko rak titipan den,menawi bade pun pundut kapan kemawon ingkang kuwoso rak saged mawon?dados nggih tetep kados sakawit den,tetep laku prihatin...."
begitu mbok Warsiyem menerangkan pada segerombol anak muda yang terheran heran,tak ada kesombongan disana dan tak ada merendah rendahkan diri secara palsu,melihat airmata jernih itu,kesederhanaan memadang hidup itu,rasa syukur itu...bagaikan nyanyian dari surga.
rindu sosok sosok model keluarga mbok Warsiyem
rindu pula sosok pemimpin sejati seperti beliau
keterangan:yang di maksud oleh mbok Warsiyem adalah:
Gelar:Sampeyandalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panoto Gomo, Kalifatullah Ingkang Kaping IX.
Nama:Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Nama Kecil:Dorodjatun
Lahir: Sompilan Ngasem, Jogjakarta, Sabtu Paing 12 April 1912 (tarikh Jawa Islam tanggal Rabingulakir tahun Jimakir 1842)
salam hormatku untukmu Sri Paduka...
perlu di ketahui anak anak muda yang bertanya pada mbok Warsiyem adalah para mahasiswa yang kebetulan kost di rumah mbok Ngaisah,kostnya murah karena sedikit jauh dari kampus...
“ik ben een blijf in de allereerste plaats javaav”, dalam bahasa Indonesia Sultan HB IX menerangkan; “setinggi-tingginya aku belajar ilmu barat, aku adalah dan bagaimanapun juga tetap Jawa”
mbok Warsiyem adalah saksi hidup ketika itu,saya percaya melihat kejujuran beliau meski semuanya adalah Wallahualam.....
mbok Warsiyem adalah saksi hidup ketika itu,saya percaya melihat kejujuran beliau meski semuanya adalah Wallahualam.....
Minggu, 04 Maret 2012
Suluh Malam
Suluh Malam
:Wijil WS Kangmas
Sekunar kunang kunang
-arah kompas pendaki
denting tangga nada
-dalam sunyi
Bukanlah terang
Melainkan gemilang
Bara
Suluh
Titik tuju
-dan malam
-kubah perak
Sekelumit nyala
Selembar udara
Tajam hidup
Kayuh,sebuah biduk
telaga biru tenang
Salam mentari
Pusar pagi...
12-1-2010
Depok bersatu dengan gerimis
Pukul. 05.00,WIB
"whS anak Ibunda"
Catatan:tibatiba aku ingin bersalam untukmu mas
sepenuh sehat bahagia engkau beserta keluarga dalam Do'aku
salam cinta-sungkem-bakti..
Sabtu, 03 Maret 2012
Riwayat Senja Hari Ini
segerombolan orang pulang demo
sisa caci maki masih membasahi bibir
entah penguasa yang zalim
entah keadaan yang rantas
keringat meleleh dari leher hingga kaki
jerit sepatu meneriakan slogan
Tuhan menyapa dari balik pintu
lorong lorong becek kumuh di rambahnya pula
si miskin diusap satu satu
di tidurkanya mereka agar lupa nyanyian perut
lagu derita hingga ke ujung negeri
lapar bukan lagi mainan baru
petani buruh yang terlilit rentenir
kaum gelandangan kota selaksa sampah hidup
ada pagelaran konyol atau ironisme
pejabat main kong kalikong menimbun kekayaan
adakah kegoblokan menguasai singgasananya?
tutup muka keadaan sekitar?
semena mena saling lari dari hukum
ingkar janji janji manis lima tahunan
lalu kemana si kecil mengadu?
menjadi tamu yang tak di harapkan hadir
tertindas lindas di negerinya sendiri....
sisa caci maki masih membasahi bibir
entah penguasa yang zalim
entah keadaan yang rantas
keringat meleleh dari leher hingga kaki
jerit sepatu meneriakan slogan
Tuhan menyapa dari balik pintu
lorong lorong becek kumuh di rambahnya pula
si miskin diusap satu satu
di tidurkanya mereka agar lupa nyanyian perut
lagu derita hingga ke ujung negeri
lapar bukan lagi mainan baru
petani buruh yang terlilit rentenir
kaum gelandangan kota selaksa sampah hidup
ada pagelaran konyol atau ironisme
pejabat main kong kalikong menimbun kekayaan
adakah kegoblokan menguasai singgasananya?
tutup muka keadaan sekitar?
semena mena saling lari dari hukum
ingkar janji janji manis lima tahunan
lalu kemana si kecil mengadu?
menjadi tamu yang tak di harapkan hadir
tertindas lindas di negerinya sendiri....
Langganan:
Postingan (Atom)











